Pak Sundar, sudah memasuki usia bukan muda lagi. Tapi kesenjaan usianya tidak menghalalangi dia untuk melakuan pekerjaan yang ekstra keras. Jam 3 pagi bersama istrinya harus sudah berada di sebuah TK untuk bersih bersih kelas dan menyapu halaman sekolah tersebut, selepas itu jam 6 pagi harus siap dengan armadanya, bolak balik untuk mengantar anak anak langganannya untuk berangkat sekolah di berbagai TK dan SD yang berbeda. Jam 8 kembali parkir menunggu antrian, di sebuah pangkalan, pangkalan tukang becak di sebuah perumahan, inilah aktifitas pagi yang rutin setiap hari dikerjakan.
Ketika ditanya, apa yang membuat dia bisa betah dan bertahan dengan aktifitas rutin bertahun tahun seperti itu, karena tidak semua orang mampu melakukannya. Maka salah satu jawabnnya adalah karena begitu mencintai keluarganya. Dia ingin membahagiakan keluarganya dengan apa yang bisa dia kerjakan, berusaha memenuhi tanggung jawabnya sebagai lelaki, sebagai suami dan bapak bagi tiga anaknya.
Inilah wujud cinta seorang pak Sundar kepada keluarganya, cinta bukan hanya kata kata semata tapi mewujud pada tindakan. Cinta berbuah pengorbanan, bagaikan dua sisi mata uang, tak bisa dilepaskan. Bukan sebuah cinta sejati jika hanya diam, tak berekspresi ketika yang dicintainya memerlukan bukti atas kata kata cinta yang telah diucapkannya.
Jadi, apa yang harus kita kerjakan ketika kita bilang bahwa kita cinta kepada Allah ?
Apa yang sehari hari kita perbuat ketika kita mengikrarkan diri bahwa kita cinta kepada Rasulullah ?
Wahai penghamba cinta, apa yang telah kita lakukan sebagai bukti bahwa kita cinta pada Islam ?
Pertanyaan ini sangatlah sederhana, tapi jawabannya sangat menentukan dan mempengaruhi apa yang akan kita perbuat. Jawaban yang hanya berhenti pada kata kata tapi sepi dari perbuatan. Gemetar kalau ingat bahwa tipologi manusia seperti itu adalah tipologi orang yang dibenci oleh Allah swt yaa ayyuhal ladzina aamanu, lima taquuluna ma laa tafalun, Kaburo maqtan indallaahi an taquluu ma laa tafalun
Ketika kita bilang cinta Allah, orientasi kehidupan kita adalah kepadaNya. Termasuk didalamnya kita jangan sampai lupa bahwa Allah adalah Maha Melihat, Maha Mengawasi . Bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang sudah kita kerjakan baik dikala kita bersama orang banyak, atau kala sendiri. Keberadaan Allah adalah sebagai WASKAT, pengawasan melekat atau juga bisa diartikan pengawasan malaikat terhadap setiap aktifitas apapun dan dimanapun, tak akan ada yang terlewat, sampai lintasan niat pun tercatat disana., astahgfirullah.
Kita bilang cinta Rasulullah. Setelah kita bershalawat kepadanyanya, maka tidak boleh berhenti sampai di lisan saja. Bahwa cara kanjeng rasul ada dalam cara kita ketika kita menjadi guru, menjadi pedagang, menjadi walikota, menjadi aparat pemerintah, menjadi karyawan, menjadi wakil rakyat dan menjadi yang lain lain. Sekarang apa yang telah kita lakukan sudahkah mendekati cara kanjeng Rasul ? Apakah kita bisa istiqomah ketika kita sedang sendirian atau bisa bertahan tatkala di depan kita banyak godaan yang menantang ? atau barangkalai justru kita melakukan sebuah kesalahan secara berjamaah ? Naudzubillah, ya Allah ampunilah hambamu..
Islam adalah satu satunya jalan yang di ridhoi untuk menghubungkan kita dengan surga yang dijanjikanNya. Inilah jalan yang telah dilalui oleh Rasul, jalan yang didalamnya dipandu oleh Alquran dan Hadist. Kita ini lemah, pikiran kita terbatas. Berada dalam jalan islam ini kan menjadikan kita penuh izzah dan terpandu oleh aturan aturan yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Tahu. Niat kadangkala sudah baik tapi cara dan langkah yang ditempuh tidak benar karena menabrak aturan dari Allah , merasa berbuat baik tapi ternyata tidak benar.
Memang perlu energi yang luar biasa untuk mengekpresikan cinta yang sudah kita kata, yang sudah kita teriakkan. Yang sudah kita lantunkan sejak lama. Waktu terus bergulir, mungkin tatkala dulu ketika dalam keterbatasan yang kita miliki, energi untuk bertahan dan istiqomah antara kata dan perbuatan terasa lebih kuat dan mengalir dengan deras. Justru yang harus kita hati hati, tatkala pintu rejeki dibuka olehNya, saat itu tiba tiba sepertinya kita kehilangan daya untuk mengekspresikan cinta dengan benar, terperosok pada ekspresi yang salah atau tertatih tatih...
Bangkit bersama dengan kesadaran, ekspresikan cinta dengan benar, walau tak gampang.
Bali, 15 Mei 2011.
HambaMu yang lemah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar