PASURUAN - DPRD Kota Pasuruan turut gerah dengan konflik internal yayasan Tuhu Asih yang mengelola sekolah luar biasa (SLB). Konflik itu dirasa sudah mengorbankan anak didik. Jika Dinas Pendidikan (dispendik) tidak mampu menengahi, dewan menuntut wali kota turun tangan.
"Jangan pernah membiarkan sengketa yang menyangkut dunia pendidikan, justru menimbulkan kebingungan bagi kalangan anak didik," kata Ismu Hardiyanto, Sekretaris Fraksi Keadilan Hati Nurani (FKHN) DPRD Kota Pasuruan kemarin.
Menurutnya, perselisihan yang terjadi di internal sekolah luar biasa (SLB) di bawah naungan Yayasan Tuhu Asih tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Apalagi, sambil menimbulkan korban kebingungan orang tua, atas kelanjutan pendidikan anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus tersebut.
Ismu menuntut segera ada jalan keluar. Dispendik yang memayungi dunia pendidikan, diminta tidak hanya diam menghadapi permasalahan tersebut. Apalagi permasalahan tersebut ternyata sudah muncul sejak tahun 2008 lalu.
"Masalah apapun, jika dihadapi oleh semuanya dengan kepala dingin pastilah akan ditemukan jawabannya. Tapi jangan ada yang mengedepankan ego masing-masing. Dispendik harus mampu memposisikan diri sebagai sosok netral. Tidak membela kepentingan pihak manapun juga," jelasnya lagi.
Diberitakan sebelumnya, pada Jumat pekan lalu terjadi aksi angkut-angkut barang invetaris SDLB negeri Kota Pasuruan yang terletak di Jl Erlangga. Barang-barang itu disebutkan sebagai milik Yayasan Tuhu Asih. Ini ternyata buntut konflik internal yayasan tersebut sejak 2008.
Ringkasnya, Yayasan Tuhu Asih mulanya mengelola TK Tuhu Asih dan SDLB Tuhu Asih. Lokasinya satu komplek di Jl Erlangga. Sebelum 2008, SDLB berubah status jadi SDLB negeri. Selanjutnya Yayasan Tuhu Asih juga mendirikan SMPLB Tuhu Asih. Lokasinya juga satu komplek dengan TK dan SDLB itu di Jl Erlangga.
Lalu ada kesempatan untuk mengubah juga status SMPLB itu menjadi negeri. Dalam hal ini terjadi beda pendapat. Pihak yayasan dan kepala SMPLB sudah ingin status SMPLB berubah jadi negeri.
Sedangkan para guru ingin hal itu dirundingkan dan dipertimbangkan matang-matang. Sebab, menjadikan SMPLB berstatus negeri butuh banyak persyaratan. Salah satunya adalah harus memiliki gedung sendiri. Belakangan, ternyata para guru merasa ditinggalkan. SMPLB Tuhu Asih oleh yayasan dan dinas pendidikan sudah diproses menjadi SMPLB negeri.
Dan pada Juli 2008, SMPLB Tuhu Asih dipindah ke gedung SDN Purworejo II yang sudah ditinggalkan karena lembaganya harus merger dengan SD lain. Konflik yayasan dengan para guru SDLB semakin meruncing.
Ini kemudian diperparah dengan pemindahan TK Tuhu Asih bersanding dengan SMPLB di gedung barunya. Padahal, menurut pihak SDLB, kepindahan itu akan tidak sesuai prosedur pendidikan. TK selalu disandingkan dengan SD, bukan SMP.
Konflik akhirnya menjalar sampai ke persaingan mendapat anak didik. Para guru SDLB kemudian mendirikan TK dan SMPLB. TK-nya diberi nama TK Permata Siwi. Tapi lokasinya tidak diizinkan berada satu komplek dengan SDLB. TK Permata Siwi akhirnya ditempatkan di SD Karanganyar di Jl Hasanuddin. Jaraknya sekitar 150 meter dari SDLB negeri di Jl Erlangga.
Selain mendirikan TK Permata Siwi, para guru SDLB mendirikan juga SMPLB Permata Siwi. Tapi, SMPLB ini lokasinya berada satu komplek dengan SDLB di Jl Erlangga.
Dalam masalah ini, dewan tidak akan tinggal diam. Anggota dewan Ismu Hardiyanto menyatakan, pengambilan barang inventaris, terputusnya tali silaturahim, kebingungan pelajar, dan para orang tuanya menjadi alasan utama untuk segera menyelesaikan semuanya.
Dia melihat, dispendik sudah kesulitan menjembatani permasalahan tersebut. Bukti yang paling nyata adalah masalah itu berlarut-larut tanpa penyelesaian, sejak tahun 2008 lalu. Padahal, tuntutan islah dari kedua belah pihak sama kuat.
"Bila memang dispendik tidak bisa mengatasi permasalahan ini, kenapa Wali Kota diam saja? Segera turun tangan, agar suasana panas itu bisa dingin. Kebekuan pun segera mencair," tuntutnya.
Sementara menunggu inisiatif wali kota untuk bertindak, dewan juga bersiap melakukan kroscek ke lapangan. Mereka ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya agar sengketa itu menemui titik solusi.
Dukungan dewan turun ke lapangan juga ditunjukkan oleh wakil rakyat lainnya. Seperti yang diungkap Helmi, anggota dewan dari PAN. "DPRD punya tanggung jawab untuk mencari penyebab kebuntuan permasalahan ini. Setelah jelas semuanya, segera akan disusun rekomendasi tentang bagaimana sebenarnya langkah tepat yang harus segera dilakukan," tegasnya.
Di tempat terpisah, Sekda Setyono menyatakan bahwa pemkot sudah mengetahui permasalahan tersebut. "Sejauh ini, kami masih mempercayakan dispendik untuk menjadi penengah menyelesaikan permasalahan tersebut. Harapannya segera tuntas, agar tidak sampai berlarut-larut dan menimbulkan kebingungan murid dan orang tuanya," tegas Sekda Setyono.
Belum Seluruhnya
Sabtu (9/1) lalu Radar Bromo menemui Andini Sugiarti yang menjabat bendahara Yayasan Tuhu Asih. Ia menyatakan barang yang diambil di SDLB pada Jumat itu adalah inventaris milik yayasan.
"Sejatinya itu (barang-barang yang diambil) adalah milik yayasan. Barang-barang itu pemberian dari pemprov yang dahulu diberikan ketika TK milik yayasan masih satu lahan dengan SDLB," kata wanita yang karib disapa Din itu.
Dan menurutnya, yang diambil hari itu masih belum sepenuhnya. Din lantas memberikan catatan ada sekitar 22 item barang yang harus diambil. Mulai dari lemari, kursi, meja, televisi, DVD dan barang-barang lainnya. Namun di saat pengambilan dilakukan, Din menyebut ada beberapa barang yang sudah tidak ada.
"Kami masih punya buktinya. Bahkan foto di saat semua barang diberikan ke yayasan, masih kami miliki," tutur pensiunan Dispenda Kabupaten Pasuruan itu.
Soal konflik yang terjadi saat ini, Din menyebut itu terjadi hanya karena ada perasaan suka dan tidak suka. "Kami sengaja memindahkan TK LB (Tuhu Asih) di satu lokasi, karena masih satu yayasan dengan kami. Pada intinya biar sama," kata Din.
Di saat pemindahan TK LB yayasan dari lokasi SDLB menuju gedung baru di SD Purworejo, lanjut Din, beberapa siswa juga ikut pindah. "Alasannya sih karena siswa tidak mau ditinggalkan oleh guru-guru yang ada di TK LB yayasan. Di situlah awal muda masalah ini," kata Din.
Halimah, salah satu guru di TK LB yayasan Tuhu Asih yang sempat ditemui di kantornya Sabtu itu juga punya alasan kenapa pihaknya mengambil barang-barang yang ada di SDLB. "Selain itu haknya masih milik kami, di TKLB ini masih kekurangan fasilitas. Bahkan sebenarnya beberapa barang yang kami ambil itu, belum sepenuhnya," katanya ketika mendampingi Umi Salamah, kepala TKLB yayasan Tuhu Asih. (via/fun/yud)
Sumber : Radar Bromo, Senin, 11 Januari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar